gadis di dalam angkot 4
Tak lama lagi murid kelas 3 akan menghadapi ujian nasional. Itu artinya akan ada hari libur bagi murid kelas 1 dan 2.
"Anak kelas 3 ujian kapan sih?" Temanku Choni membuka percakapan siang itu saat sedang makan di warung mie langganan kami.
"Kalau tanggal pastinya aku kurang tahu, tapi yang jelas bulan april ini," sahutku.
"Libur 3 hari nanti ada kegiatan?" Tanya temanku Choni.
"Aku enggak ada, palingan di rumah aja. Kau gimana Ren?" jawab Ansari.
"Aku juga belum ada sih. Palingan di rumah aja," Jawabku.
"Daripada bosan di rumah cari kegiatanlah. Udah agak lama semenjak terakhir kita jalan-jalan," Ujar Choni.
"Memang mau kemana?" tanyaku.
"Kalau ke pemandian dekat rumahmu aja gimana?" usul Choni.
"Bisa aja sih," jawabku.
"Sekalian aja menginap di rumahmu. Sehari aja. Hari pertama keliling kampung, besoknya baru ke pemandian," Rohim yang baru selesai makan memberikan usul.
"Ya udah nginep aja, entar malemnya bisa sekalian ke rumah Ansari," Jawabku.
"Liat nantilah gimana jadinya," sahut Ansari.
Setelah makan kami berpisah menuju ke tempat angkot masing-masing. Aku pulang naik angkot bersama Ansari. Rumah kami memang satu arah, hanya beda kampung saja. Angkot yang biasa dinaiki gadis itu berada tepat di sebelah angkot yang sedang aku naiki. Kaca jendela yang dilapisi dengan film membuatku sulit untuk melihat ke dalam angkot tersebut. Hari itu angkot yang kunaiki lebih dahulu berangkat dari angkot gadis itu.
Tidak terasa seminggu lagi murid kelas 3 sudah menjalani ujian nasional. Sejak pertemuan pertamaku dengan gadis itu di kantin sudah beberapa kali aku bertemu dengannya baik itu di kantin ataupun di ruang kelasnya. Terkadang aku juga masih bertemu dengannya saat pulang di angkot. Mengenai rencana liburan kami juga sudah disepakati teman-temanku akan menginap di hari pertama dan kedua liburan, sedangkan hari ketiga akan kami gunakan untuk istirahat. Dalam pikiranku terlintas pertanyaan,"Bukankah artinya minggu ini merupakan minggu terakhir aku berkesempatan bertemu dengannya? Apakah setelah ujian nasional aku tidak lagi dapat bertemu dengannya?". Karena hal tersebut selama seminggu ini aku memutuskan untuk tidak pulang bersama Ansari dan memilih menaiki angkot yang dinaiki gadis itu. Hari ini adalah hari terakhir kesempatanku untuk dapat bertemu dengan gadis itu. Setelah bel pulang berbunyi kami semua langsung merapikan kelas untuk ujian hari senin. Kursi dan bangku yang tidak digunakan dikeluarkan dan ditaruh gudang, sedangkan yang tersisa ditempeli nomor urut. Aku dengan tergesa-gesa mengangkat satu per satu kursi dan bangku agar cepat selesai. Setelah semua pekerjaan selesai aku langsung bergegas ke tempat angkot yang biasa dinaiki gadis itu berada. Aku menunggu. Ah, apakah dia sudah naik angkot duluan? Tidak, tadi kulihat dari jauh murid kelas 3 masih banyak di sekolah. Aku menunggu. Menit-menit berlalu dengan sangat lamban. Ayolah, ini kesempatan terakhirku untuk dapat satu angkot dengannya. Aku menunggu. Ah itu dia. Gadis itu datang, melewatiku dan masuk ke dalam angkot. Aku menyusul gadis itu dari belakang. Angkot itu masih kosong. Kami berdua duduk di belakang dan saling berseberangan. Kalau sudah begini aku tidak bisa tidur. Lebih tepatnya tidak boleh tidur selama perjalanan. Momen-momen terakhir sebelum akhirnya gadis itu akan tamat dari sekolahku. Sebelum akhirnya dia pergi ke temapt yang jauh, entah itu bekerja atau sekolah lagi. Ya, ini adalah momen-momen terakhirku. Hari ini di angkot ini, ada momen yang akan tersimpan rapi di dalam memori otakku. Selama perjalanan di hari itu, aku tidak tidur hingga tempat pemberhentianku.
Sekarang aku sudah naik ke kelas 2 dan memasuki semester 2. Sudah lama sekali sejak pertemuan terakhirku dengan gadis itu. Sesekali kunaiki angkot yang biasa dinaiki gadis itu, berharap dapat berjumpa dengannya. Tapi tak pernah sekalipun aku bertemu dengan gadis itu. Terkadang saat sedang di mini market bersama Ansari melihat merahnya matahari di ufuk barat, atau bersantai di pondok depan rumah sambil melihat bulan yang separuh tubuhnya ditutupi oleh langit malam aku penasaran di mana gadis itu sekarang berada dan apa yang sedang dia lakukan. Tapi kurasa di dunia ini ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab dan hal-hal yang tidak akan ketahui hingga berakhir masanya.
Ruang kelasku yang baru masih berada di lantai 2 dan di antara ruangan murid kelas 1 dan murid kelas 3. Aku baru saja membayar uang sekolah dan memutuskan langsung kembali ke kelas tanpa singgah ke kantin. Melewati ruang guru aku dapat melihat ruang kelas gadis itu di lantai 3. Aku baru saja menuruni anak tangga saat sesosok gadis yang familiar lewat di sampingku. Dia yang sudah cukup lama hanya berada di angan-angan kini hadir nyata. Ia tidak memakai seragam sekolah seperti biasa aku melihatnya. Aku terhenti dan mengalihkan pandanganku ke gadis yang bar usaja lewat. Tidak mampu aku menahan senyum yang tersungging di sudut bibirku. Aku mengurungkan niatku untuk kembali ke kelas dan berbalik ke arah ruang guru menyusul gadis tersebut.
"Anak kelas 3 ujian kapan sih?" Temanku Choni membuka percakapan siang itu saat sedang makan di warung mie langganan kami.
"Kalau tanggal pastinya aku kurang tahu, tapi yang jelas bulan april ini," sahutku.
"Libur 3 hari nanti ada kegiatan?" Tanya temanku Choni.
"Aku enggak ada, palingan di rumah aja. Kau gimana Ren?" jawab Ansari.
"Aku juga belum ada sih. Palingan di rumah aja," Jawabku.
"Daripada bosan di rumah cari kegiatanlah. Udah agak lama semenjak terakhir kita jalan-jalan," Ujar Choni.
"Memang mau kemana?" tanyaku.
"Kalau ke pemandian dekat rumahmu aja gimana?" usul Choni.
"Bisa aja sih," jawabku.
"Sekalian aja menginap di rumahmu. Sehari aja. Hari pertama keliling kampung, besoknya baru ke pemandian," Rohim yang baru selesai makan memberikan usul.
"Ya udah nginep aja, entar malemnya bisa sekalian ke rumah Ansari," Jawabku.
"Liat nantilah gimana jadinya," sahut Ansari.
Setelah makan kami berpisah menuju ke tempat angkot masing-masing. Aku pulang naik angkot bersama Ansari. Rumah kami memang satu arah, hanya beda kampung saja. Angkot yang biasa dinaiki gadis itu berada tepat di sebelah angkot yang sedang aku naiki. Kaca jendela yang dilapisi dengan film membuatku sulit untuk melihat ke dalam angkot tersebut. Hari itu angkot yang kunaiki lebih dahulu berangkat dari angkot gadis itu.
Tidak terasa seminggu lagi murid kelas 3 sudah menjalani ujian nasional. Sejak pertemuan pertamaku dengan gadis itu di kantin sudah beberapa kali aku bertemu dengannya baik itu di kantin ataupun di ruang kelasnya. Terkadang aku juga masih bertemu dengannya saat pulang di angkot. Mengenai rencana liburan kami juga sudah disepakati teman-temanku akan menginap di hari pertama dan kedua liburan, sedangkan hari ketiga akan kami gunakan untuk istirahat. Dalam pikiranku terlintas pertanyaan,"Bukankah artinya minggu ini merupakan minggu terakhir aku berkesempatan bertemu dengannya? Apakah setelah ujian nasional aku tidak lagi dapat bertemu dengannya?". Karena hal tersebut selama seminggu ini aku memutuskan untuk tidak pulang bersama Ansari dan memilih menaiki angkot yang dinaiki gadis itu. Hari ini adalah hari terakhir kesempatanku untuk dapat bertemu dengan gadis itu. Setelah bel pulang berbunyi kami semua langsung merapikan kelas untuk ujian hari senin. Kursi dan bangku yang tidak digunakan dikeluarkan dan ditaruh gudang, sedangkan yang tersisa ditempeli nomor urut. Aku dengan tergesa-gesa mengangkat satu per satu kursi dan bangku agar cepat selesai. Setelah semua pekerjaan selesai aku langsung bergegas ke tempat angkot yang biasa dinaiki gadis itu berada. Aku menunggu. Ah, apakah dia sudah naik angkot duluan? Tidak, tadi kulihat dari jauh murid kelas 3 masih banyak di sekolah. Aku menunggu. Menit-menit berlalu dengan sangat lamban. Ayolah, ini kesempatan terakhirku untuk dapat satu angkot dengannya. Aku menunggu. Ah itu dia. Gadis itu datang, melewatiku dan masuk ke dalam angkot. Aku menyusul gadis itu dari belakang. Angkot itu masih kosong. Kami berdua duduk di belakang dan saling berseberangan. Kalau sudah begini aku tidak bisa tidur. Lebih tepatnya tidak boleh tidur selama perjalanan. Momen-momen terakhir sebelum akhirnya gadis itu akan tamat dari sekolahku. Sebelum akhirnya dia pergi ke temapt yang jauh, entah itu bekerja atau sekolah lagi. Ya, ini adalah momen-momen terakhirku. Hari ini di angkot ini, ada momen yang akan tersimpan rapi di dalam memori otakku. Selama perjalanan di hari itu, aku tidak tidur hingga tempat pemberhentianku.
Sekarang aku sudah naik ke kelas 2 dan memasuki semester 2. Sudah lama sekali sejak pertemuan terakhirku dengan gadis itu. Sesekali kunaiki angkot yang biasa dinaiki gadis itu, berharap dapat berjumpa dengannya. Tapi tak pernah sekalipun aku bertemu dengan gadis itu. Terkadang saat sedang di mini market bersama Ansari melihat merahnya matahari di ufuk barat, atau bersantai di pondok depan rumah sambil melihat bulan yang separuh tubuhnya ditutupi oleh langit malam aku penasaran di mana gadis itu sekarang berada dan apa yang sedang dia lakukan. Tapi kurasa di dunia ini ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab dan hal-hal yang tidak akan ketahui hingga berakhir masanya.
Ruang kelasku yang baru masih berada di lantai 2 dan di antara ruangan murid kelas 1 dan murid kelas 3. Aku baru saja membayar uang sekolah dan memutuskan langsung kembali ke kelas tanpa singgah ke kantin. Melewati ruang guru aku dapat melihat ruang kelas gadis itu di lantai 3. Aku baru saja menuruni anak tangga saat sesosok gadis yang familiar lewat di sampingku. Dia yang sudah cukup lama hanya berada di angan-angan kini hadir nyata. Ia tidak memakai seragam sekolah seperti biasa aku melihatnya. Aku terhenti dan mengalihkan pandanganku ke gadis yang bar usaja lewat. Tidak mampu aku menahan senyum yang tersungging di sudut bibirku. Aku mengurungkan niatku untuk kembali ke kelas dan berbalik ke arah ruang guru menyusul gadis tersebut.

Comments
Post a Comment